Monday, February 27

Punggung tak bernama

Share:

Terlihat dirimu di arah berlawanan
Menggenggam fikir yg mulai tak beraturan
Kutub seakan bertanya
Menjadikan jiwa, hidup diatas belantara

Teruntuk yang di untukkan;
Dibalik punggung tak bernama,
Sudikah kau mengenalkan "khayal" pada "nyata"?

Makassar, 27 Februari 2017

Wednesday, January 25

Teruntuk Aku dan Jiwa sepi

Share:
Antara aku dan jiwa sepi
Indah melihatnya terus tersenyum meski tak berarti
Hujat makhluk buta paham akan hidup terdengar lantang
Layaknya setiap senar dipetik demi keramaian
Berusaha menambah sugesti yg terkikis
Kau mampu besahabat dengannya

Kata mereka
Bahagia bukan ketika kau berdua
Aku setuju dan terpikat oleh yg kuanggap lelucon
Namun ketika semua berusaha membohongi diri
Aku sadar akan sepi pun merasakan sepi

Melihati gelak tawa yg tak bernyawa
Aku bertanya pada jiwa, 'Masih kuatkah dirimu disana?'
Ego kian memberat
Menjadikan diri makin menghukumnya dengan kepalsuan
Jauh dari semestinya jiwa ditempatkan

----

Teruntuk aku dan jiwa sepi
Terimalah kasihku akan mengikis pahamku yang tak bertepi
Mereka indah ketika dinikmati
Namun layu saat terus disirami senyum yang tak dihuni

Monday, December 12

Kau: maksud dalam tungguku

Share:
Apa sebenarnya mauku saat ini? Cuma bisa melihat dari kejauhan dan mengagumi dari jarak yang terlihat olehmu. Menyapamu dengan ‘hai’ saja sudah sangat sulit rasanya. Apalagi untuk mengajakmu berbincang banyak dan memandangmu dengan tatapan seperti biasa.

Ingin rasanya kukeluarkan semua kekesalanku di hadapanmu, namun aku takut terlihat bodoh akan semua itu. Pernah aku mencoba menyapamu melalui surat virtual. Menulis semua yang ingin kusampaikan bersama iringan irama keyboard mewakili detak nadiku, membacanya berulangkali, dan menghapusnya (juga) berulangkali. Entah kutukan apa yang kau keluarkan pada lelaki yang ingin mendekatimu, hingga aku enggan dan sesulit itu menekan tombol kirim yang seakan sudah menarikku. 

Kau perempuan pertama yang memperlihatkan titik henti otakku. Kau perempuan pertama yang menyajikan gugupku dengan hidangan apik. Kau akan jadi perempuan pertama yang meneggelamkan khayalku dalam tiap rangkain aksaramu.

Teruslah seperti itu, sampai aku tau cara mengangkat kutukanmu, dan melihatmu melepas tameng biadab itu untukku.

Kau; maksud dalam tungguku..
© 2012 - Pejantan Nokturnal's digital diary
Maira Gall